Berkeluarga

Akan kemana kita, kekasihku? Lelah belum menidurkan matamu. Gelak tawa pada jeda helaan nafas itu, kamu telah menyemai warna atas sebuah rumah. Tempat telingaku sering menenggelamkan ramai. Mewangi. Sementara kemenangan segera mendebu. Aku dan kamu masing-masing sibuk menatap denyut jantung. Pada degup yang paling mesra, kita berdansa. Di atas lantai bekas manusia bercerita aroma sosis.… Lanjutkan membaca Berkeluarga

Iklan

Jatuh Cinta

Aisyah berpulang dari menemu saudara yang isi kepalanya hanya cinta. Memangku bau nasi kotak proyeksi imajinasi, sambil kalau-kalau berubah menjadi bukan fiksi. Omong-omong, kalian pernah menjadi beruntung? Aku, dengan berbekal izin Pemilikku, adalah telah berangkat menikahi cinta. Sekaligus menggandeng langkah keberuntungan berlarian menujuku tanpa perlu repot keping aksaraku menggebu berburu. Dewasa ini, ia getol mendoakan… Lanjutkan membaca Jatuh Cinta

Oleh-oleh Dari Tuhan

Aku sedang menengadahkan muka ke langit malam ini. Merah biru putih kerlip lampu burung besi—memberitahukan identitasnya—melintas melewati banyak kepala di bawahnya, sambil tidak merasa diperhatikanku. Berdiri aku memeluk paket yang baru datang sepulang aku pulang. Pikiranku mulai rancu. Merenungi bumi merenungi manusia. Bumi diisi manusia dan manusia adalah tidak pernah mungkin hanya aku. Setiap dari… Lanjutkan membaca Oleh-oleh Dari Tuhan

Romansa Seorang Tamu

Pelukan telah ramai berbuka tangan lebar-lebar atas sebuah kedatangan. Banyak pasang mata beberapanya telah ditakdirkan menurunkan hujan. Banyak pasang lainnya telah ditakdirkan bermesraan bersama dengan kado Tuhan. Sementara yang baru saja menjadi tua ini, sedang gemar menyanyi dari balik langit kemanusiaan. Memuisikan syair-syair akan pelepasan sebuah busana muda. Segera tua segera tidak muda. Di bumi… Lanjutkan membaca Romansa Seorang Tamu

Satu Paket Biskuit Cokelat

Aku mampu merasa kehadiran elok kupu-kupu berenang bertaburan terhadap sebuah perut manusia, bergelimang nyawa. Memperpejam mata, sama saja dengan mengganda masing-masing dari mereka tiga kali lipat dari jumlahnya. Memperbuka mata, sama saja dengan menatap tepat searah jarum baris, atas pagar yang menjaga keterputihnya paling sungguh paling tulus di atas bumi Jogjakarta. Aku bercita-cita menertawakan sebuah… Lanjutkan membaca Satu Paket Biskuit Cokelat

Perayaan Perdamaian

Mata semakin benderang menjelma tidak duka. Omong-omong, aku hanya berniat mempertolong bertawar dengar. Dan terima kasih untuk teman dari seorang teman bernama Minyak, sekarang aku mampu berpikir. Aku mampu menjumlah dosa-dosa yang berunjuk rasa mengintipkan dirinya terhadap setiap jarak atas puing-puing keantusiasmean beberapa segala dari kepala. Untuk kali tadi, aku merasa terlampau melampau. Kiranya telah… Lanjutkan membaca Perayaan Perdamaian

Marah

Di atas meja kekecewaan, sepotong hati mati terbunuh. Dimatikan resah. Dimatikan payah berkepayahan, marah. Seorang teman dipulangkan dari seganjil keluh tentang peluh seraya mengantarkan pesan lisan pinta perutnya untuk diisikan. Pada petang, terang, senggang, tidak lengang, kesemuanyaku setuju. Mengiyakan. Seberang jauh jalan kebutagelapan, ibu pejual soto kuning tersenyum sambil pepahitan melirik jam tangan. Apa yang… Lanjutkan membaca Marah